Kamu yang Beda dari Kamu-Kamu yang Lainnya.

Untuk Pacarku,

Detik ini juga, aku tuliskan surat untukmu.

Kamu, yang tak hentinya memendam ungkapan perasaanmu persis seperti aku, yang tak hentinya memendam pertanyaan-pertanyaanku tentangmu, yang namanya terekam jelas di otakku sebagai panggilan yang lebih dari sekadar sayang. Namamu itulah panggilan favoritku. Aku tak perlu merubah namamu menjadi panggilan lain ketika kata itu dengan sendirinya sudah khusus di hatiku.

Aku mengerti akan keraguan sesaatmu. Aku memahami perbedaanmu. Aku tahu, aku tahu. Tapi bukan perbedaan itu yang harus menjadi penghalangmu untuk hadir di hidupku. Hilangkan ragumu, tetaplah menjadi dirimu. Aku tak mengapa dengan absennya kata-katamu, hanya saja, jangan sampai kejujuranmu terperangkap oleh diammu.

Sudah kau lihat, bukan, bagaimana sakit dan penyesalan mencuat tiba-tiba hanya karena kejujuranmu yang lama tertahan waktu itu perlahan menyisiri harapanku? Ya, kamu begitu lama, hingga aku sejenak merasa sia-sia dengan kata ‘menunggu’ dan ‘mempercayai’. Aku sempat tersesat, mengabaikan semua kepercayaan dan memanfaatkan kesempatan hanya untuk meninggalkan orang-orang dengan hati yang terluka. Sampai kamu membuatku sadar, tidak ada kata terlambat, sejauh apapun kamu dari waktu yang kukira seharusnya tepat.

Jauhmu dari 2 tahun yang lalu itu aku tak lagi mempermasalahkannya. Lalu, untuk apa kita mempermasalahkan jarak antara kota sini dan kota sana? Kita akan tetap dekat tanpa berada di tempat yang berdekatan. Aku percaya padamu, kamu percaya padaku. Sesederhana itulah cara kita mengaburkan kata ‘jauh’.

Sementara hatiku yakin padamu, aku sendiri ingin merasa yakin pada ingatanku. Mungkin ini berat, atau mungkin tidak, tapi sejujurnya aku masih merasa berat disini, di kepalaku. Beberapa ingatanku masih membaur, di antara kesemuan dan halusinasi. Bahkan semua ini pun terasa seperti mimpi. (Meski aku tahu sebenarnya ini sesuatu yang apa adanya)

Tapi aku tetap mau ketika pagi nanti ku terbangun, kamu menyadarkanku bahwa ini semua bukan sekadar mimpi. Sekalipun memoriku terus mengaburkan batas antara khayal dan fakta, aku mau kamu terus meyakinkan bahwa ini nyata. Aku ini nyata. Kamu pun nyata. Kita, meski tampak seperti kisah-kisah fiksi dalam buku cerita, sebenarnya adalah kenyataan yang nyata.

Kamu tidak perlu bersusah payah membalas surat ini, tapi tolong beritahu aku jika kamu selesai membaca kalimat ini.

Gadis yang begitu bahagia,

Sovira M.S.

Tagged: , ,

3 thoughts on “Kamu yang Beda dari Kamu-Kamu yang Lainnya.

  1. rubreinr January 20, 2013 at 8:35 am Reply

    wah.. cop, aku udah baca nih :3

  2. Ardi Perkasa January 20, 2013 at 9:08 am Reply

    kata-katamu di tulisan ini, bagus..🙂
    semoga langgeng sampai ada keputusan yang indah dari Allah Yang Maha Cinta..🙂

  3. iin April 14, 2013 at 10:49 pm Reply

    Kmu cewek hebat vii.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s